Saturday, July 12, 2014

Tulisan 11

Perekonomian Indoesia

Devisa Hasil Ekspor Migas Pompa Cadangan Devisa


            Posisi cadangan devisa Indonesia hingga akhir Juni 2014 mencapai US$ 107,7 miliar. Jumlah itu meningkat dari posisi akhir Mei 2014 sebesar US$ 107,0 miliar. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan kenaikan cadangan devisa itu mencerminkan adanya arus dana masuk ke Indoesia yang cukup baik. Hal itu juga menandakan para investor tetap memercayai fundamental perekonomian nasional.
            “Kalau diperhatikan, malah berbagai pihak memperkirakan jumlah itu akan turun. Ternyata walau BI aktif di pasr, jumlahnya masih cukup meningkat,” ujarnya seusai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR di kompleks parlemen. Lebih lanjur agus mengatakan neraca pembayaran menunjukkan kondisi positif ada tekanan musiman pada cadangan devisa, seperti terjadi setiap kuartal kedua. Deputi Gubernur BI menambahkan, secara lebih rinci, peningkatan cadangan devisa dipengaruhi oleh transaksi penerimaan devisa hasil ekspor migas pemerintah. Adapun kebutuhan devisa untuk investasi  valuta asing dalam rangka satbilisasi nilai tukar rupiah dapat diimbangi dengan kenaikan simpanan deposito valuta asing bank-bak di BI.
            Posisi cadangan devisa per akhir Juni dapat membiayai 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Besaran itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Penguatan cadangan devisa turut berdampak positif terhadap pergerakan rupiah. Nilai tukar, sesuai kurs referensi BI, menguat 100 poin ke level Rp. 11.787 per dolar AS. Adapun nilai tukar rupiah yang di transaksikan antar bank di Jakarta. Menguat sebesar 198 poin menjadi Rp.11.674 per dolar AS dari pada akhir pekan lalu di posisi Rp 11.872 per dolar AS.


Sumber : (Koran Media Indonesia Juli 2014)

Tulisan 10

Perekonomian Indonesia

Kenaikan Royalti Batubara Diajukan ke Kemkeu


            Kementrian ESDM telah merampung konsep revisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 2012 tentang Jenis danTarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dalam revisi itu memuat usulan kenaikan royalti batubara. Direktur Jendral Mineral dan Batubara Kementrian ESDM, R Sukhyar mengatakan kenaikan royalti batubara berlaku apabila haraga komoditas tersebut berada di atas US$ 80 per ton. Sukyar menjelaskan dalam konsep yang diajukan itu menyebutkan kenaikan royalti apabila harga komoditas batubara diatas US$ 80 per ton.
            Ada pun besaran kenaikan bagi perusahaan pemegang izin usaha pertambanga (IUP) batubara kalori kurang dari 5.100 kalori/kj (kkal/kg) dari royalti 3% menjadi 7%. Untuk batubara dengan tingkat kalori antara 5.100 kkal/kg – 6.100 kkal/kg dari royalti 5% menjadi 9% kemudian untuk royalti batubara dengan tingkat kalori lebih dari 6.100 kkal/kg dari 7% menjadi 13,5%

Kajian Bersama
            Ketuan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu menyetujui besaran kenaikan royalti batubara yang akan diajukan oleh kementrian ESDM. Namun, dia meminta kenaikan royalti itu dilakukan ketika harga komoditas itu berada di atas level US$ 100 per ton, bukan di harga US$ 80 per ton yang diusulkan ESDM. Menurut dia, apabila usulan US$ 80 per ton itu ditetapkan pemerintah maka banyak pengusaha batubara yang menutup usahanya. Pasalnya harga komoditas saat ini sedang melemah yang berada di level sekital US$ 70-an per ton. “Di harga US$ 80 – 90 itu masih sangat unfavorable, banyak pengusaha yang gulung tikar. Seharusnya di atas US$ 90, kami proposed di US$100 per ton,” ujar Bob Kanandanu.


Sumber : (Koran Suara Pembaruan Juli 2014)

Tulisan 9

Perekonomian Indonesia

Fundamen Ekonomi Indonesia Melemah


            Standard Chartered Bank menilai fundamen ekonomi Indonesia terus melemah. Investor asing pun melihat risiko ekonomi dan politik di negeri ini meningkat. Penilaian itu berurutan dengan direvisinya proyeksi pertumbuhan perekonomian global oleh Bank Dunia. Ini terjadi seiring semakin dalamnya resesi Eropa dan melambatnya perekonomian negara-negara berkembang.
            Managing Director and Senior Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan menyatakan, persepsi investor semakin negatif karena berlarut-larutnya keputusan mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. “Tanpa kejelasan mengenai kebijakan energi pemerintah, subsidi BBM bakal terus membebani anggaran pemerintah dan neraca transaksi berjalan,” kata Fauzi, di Jakarta.
            Standard Chartered merevisi proyeksi transaksi berjalan Indonesia untuk tahun 2013 menjadi 20 miliar dollar AS (sekitar -2,1 persen dari produk domestik bruto/PDB nominal) dari sebelumnya 14 miliar dollar AS (-1,5 persen dari PDB nominal). Ini terkait dengan prediksi pemulihan harga komoditas di pasar internasional masih akan berjalan lambat, sementara sekitar 55 persen ekspor Indonesia berbasis komoditas.
            Rupiah diperkirakan akan tetap tertekan sepanjang tahun ini karena risiko meningkatnya inflasi, terutama karena kenaikan harga BBM. Itu terjadi juga seiring lambatnya respons kebijakan moneter Bank Indonesia dan kekhawatiran pasar terhadap defisit neraca transaksi berjalan. “Kami merevisi proyeksi nilai tukar rupiah ke Rp 9.950 per dollar AS pada akhir triwulan kedua 2013, Rp 9.900 per dollar AS pada akhir triwulan ketiga 2013, dan Rp 9.800 per dollar AS pada akhir triwulan keempat 2013,” kata Fauzi.
            Dalam laporan Global Economic Prospects yang dirilis Selasa lalu, Bank Dunia menyatakan, negara-negara maju belum akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa tahun ke depan. Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan hanya akan tumbuh 2,2 persen atau melambat jika dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang sebesar 2,3 persen. Pada awal tahun ini, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh sekitar 2,4 persen pada tahun 2013.
            Terkait kondisi Indonesia, Bank Dunia menyebutkan tingkat inflasi yang meningkat menjadi salah satu yang harus dihadapi dengan saksama. Selain itu, pelemahan nilai rupiah dan kenaikan harga bahan makanan juga patut menjadi perhatian.
Di pasar modal, Bank Dunia melihat valuasi saham di Indonesia bersama Thailand, Laos, dan Filipina sudah terlalu tinggi. Ini terlihat dari rasio harga saham dan laba perusahaan 17-21 kali. Potensi ambil untung oleh investor pun terlihat. (BEN)

Sumber : (Koran Kompas)



NPWP GANDA ! Bagaimana Cara Menghapusnya ?

Hai balik lagi ke blog saya... Mau cerita dikit pengalamanku di kantor. Ceritanya begini, waktu itu saya diminta untuk membuat NPWP untuk pe...